Kodok Buduk (Duttaphrynus melanostictus): Tetangga Kota yang Sering Diabaikan

Duttaphrynus melanostictus (kodok buduk) ©Nasya Aliya

Di antara berbagai amfibi yang kita temui di sekitar lingkungan perkotaan dan pedesaan, ada satu jenis yang hampir selalu hadir, yaitu kodok buduk atau dalam nama ilmiahnya Duttaphrynus melanostictus. Meskipun sering dianggap sebagai "kodok biasa" atau bahkan hama, kodok ini sebenarnya punya peran ekologis yang penting, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana amfibi bisa berdaptasi dengan lingkungan yang sangat terganggu oleh manusia. 

Nama dan Taksonomi

Kodok buduk dulu dikenal sebagai Bufo melanostictus, tetapi setelah kajian filogenetik yang lebih mendalam, kini dimasukkan ke dalam genus Duttaphrynus. Nama ilmiahnya adalah Duttaphrynus melanostictus (Schneider, 1799), dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Asian common toad atau Asian black-spined toad.

Di Indonesia, ia lebih dikenal dengan nama lokal "kodok buduk" atau "kodok sawah", meskipun sebenarnya tidak hanya ditemukan di sawah, tapi juga di pekarangan, kebunh, dan bahkan di dalam kompleks perkantoran atau kampus. Spesies ini sering digunakan sebagai contoh awal untuk mengenalkan morfologi dan ekologi amfibi, karena kemudahan menemukannya di lingkungan sekitar.

Morfologi dan Ciri Khas

Duttaphrynus melanostictus adalah kodok berukuran sedang hingga besar, dengana panjang tubuh dewasa sekitar 5-10 cm, tergantung jenis kelamin dan lokasi. Kepalanya berukuran sedang, dengan anggota badan yang relatif pendek dan tebal, serta kulit yang kering dan penuh kutil.

Ciri khas yang paling mencolok adalah kelenjar paratoid yang besar dan menonjol di belakang kepala, serta deretan kulit besar di punggung yang sering dikelilingi pigmen gelap. Warnanya sangat bervariasi, dari coklat pucat, abu-abu, hingga hampir hitam, dengan pola bintik atau garis gelap yang khas. Karena variasi warna ini kadang sulit membedakannya dari spesies kodok lain hanya dari foto, sehingga identifikasi perlu memperhatikan detail morfologi seperti bentuk kelenjar parotid dan pola kutil.

Duttaphrynus melanostictus (kodok buduk) ©Nasya Aliya

Habitat dan Persebaran

Kodok buduk adalah spesies yang sangat toleran terhadap gangguan manusia, sehingga sering disebut sebagai "kodok komensal manusia". Habitat utamanya adalah dataran rendah yang terganggu, seperti lahan pertanian, pemukiman, kebun, dan kawasan perkotaan, hingga ketinggian sekitar 1.800 mdpl.

Di Indonesia, persebarannya sangat luas, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Lombok, Sulawesi, hingga ke Papua Barat (Manokwari) dan kini juga ditemukan di sekitar Sentani, Papua. Di banyak kota besar seperti Jakarta, Bogor, Semarang dan Manokwari, kodok ini menjadi salah satu amfibi yang paling umum ditemukan di lingkungan terbuka dekat sumber air.

Perilaku dan Ekologi

Kodok buduk bersifat nokturnal, lebih aktif di malam hari, terutama setelah hujan dan pada suhu sekitar 25-27°C. Saat siang hari, mereka biasanya bersembunyi di bawah batu, tumpukan serasah, atau di celah tanah yang lembab.

Makanannya terdiri dari berbagai serangga dan invertebrata kecil, seperti kecoak, rayap, semut, kumbang, dan lipan. Karena itulah, di beberapa daerah perkotaan, kodok buduk justru berperan sebagai pengendali alami hama serangga, meskipun potensinya masih kurang dimanfaatkan secara terencana. 

Reproduksi dan Siklus Hidup

Perkawinan dan pemijahan biasanya terjadi setelah hujan, terutama di genangan air, kolam buatan, selokan, atau sawah. Kodok betina meletakkan telur dalam bentuk tali panjang yang berisi ratusan hingga ribuan telur, yang kemudian menetas menjadi berudu.

Duttaphrynus melanostictus mating/kawin (Wikipedia, 2025)

Berudu kodok buduk hidup di air dan memakan bahan organik serta alga, sebelum akhirnya mengalami metamorfosis menjadi kodok kecil. Siklus hidup ini membuat mereka sangat bergantung pada ketersediaan air tawar sementara, sehingga perubahan iklim dan pengeringan genangan air bisa berdampak langsung pada populasi mereka.

Status Konservasi dan Ancaman

Secara global, Duttaphrynus melanostictus dikategorikan sebagai Least Concern oleh IUCN karena persebarannya yang sangat luas dan adaptabilitasnya yang tinggi. Namun, di beberapa daerah, populasi lokal bisa terancam oleh populasi air, perubahan habitat, dan penggunaan pestisida yang berlebihan.

Di sisi lain, karena kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan manusia, kodok buduk kadang dianggap sebagai "hama" atau bahkan dikaitkan dengan mitos negatif, sehingga sering dibunuh secara sembarangan. Padahal, sebagai predator serangga, mereka sebenarnya bisa menjadi bagian dari ekosistem perkotaan yang lebih seimbang.

Peran dalam Studi Herpetologi

Duttaphrynus melanostictus menjadi salah satu model studi yang ideal untuk memahami ekologi amfibi di lingkungan terganggu. Kehadirannyaa yang konsisten di berbagai habitat, dari kampus hingga pemukiman, memungkinkan kami melaukan pengamatan jangka panjang tentang pola sebaran, preferensi habitat, dan interaksi dengan lingkungan perkotaan.

Selain itu, studi tentang pola makan dan peran ekologis kodok buduk juga membuka peluang untuk mengembangkan konsep "herpetofauna perkotaan" sebagai bagian dari konservasi berbasis komunitas. Dengan memahami bahwa "kodok biasa" pun punya peran penting, kita bisa mulai mengubah persepsi dari "mengusir" menjadi "menghargai" keberadaan amfibi di lingkungan sekitar. 

Kodok buduk (Duttaphrynus melanostictus) mungkin bukan amfibi yang paling cantik atau paling langka, tetapi ia adalah salah satu yang paling tangguh dan paling dekat dengan kehidupan manusia. Spesies ini menjadi pengingat bahwa konservasi tidak selalu harus tentang spesies langka di hutan hujan, tetapi juga tentang menghargai tetangga kecil yang setia menemani kita di pekarangan dan selokan kota.

Penulis : Nasya Aliya

Referensi

Bali Wildlife. Asian Common Toad (Duttaphrynus melanostictus).Diakses pada 18 Desember 2025 di https://baliwildlife.com/id/ensiklopedia/hewan/amfibi/kodok/asian-common-toad/

Desviana, J. 2025. Keragaman Genetik Berudu Duttaphrynus melanostictus (Schneider, 1799) dari Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Gen Mitokondria 16S rRNA. Skripsi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Gelb, J. 2013. Duttaphrynus melanostictus. Animal Diversity Web. Diakses pada 20 Desember 2025 di https://animaldiversity.org/accounts/Duttaphrynus_melanostictus/

Kurniawan, Heru. Kodok Buduk (Duttaphrynus melanostictus Schneider, 1799)-Asian Common Toad. Perhimpunan Herpetologi Indonesia. Diakses pada 18 Desember 2025 di http://perhimpunanherpetologi.com/kodok-buduk-duttaphrynus-melanostictus-schneider-1799-asian-common-toad/

Nesty, R., Tjong, D.H., dan Herwina, H. 2013. Variasi Morfometrik Kodok Duttaphrynus melanostictus (Schneider,1799) (Anura: Bufonidae) di Sumatera Barat yang Dipisahkan oleh Bukit Barisan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Andalas. Padang.

The IUCN Red List of Threatened Species. 2023. Duttaphrynus melanostictus. Diakses pada 19 Desember 2025 di https://www.iucnredlist.org/species/54707/53714486


0 Comments:

Post a Comment

My Instagram