Halo Sahulers 🐊✨
Hutan bukan hanya hamparan pepohonan hijau, tetapi juga rumah bagi berbagai makhluk hidup yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Salah satu kelompok fauna yang sering luput dari perhatian adalah herpetofauna, yaitu kelompok hewan melata yang terdiri atas amfibi dan reptil.
Pada tanggal 21-25 September 2025, KSH "SAHUL" melakukan kegiatan eksplorasi herpetofauna di Blok Hutan Cisaat, Desa Sukasari, Purwakarta bersama dengan "Lutung" Forum Studi Primata yang mengamati primata di Hutan Cisaat. Eksplorasi ini berguna untuk mengetahui jenis, keanekaragaman, serta distribusi herpetofauna di kawasan tersebut.
Latar Belakang dan Tujuan Eksplorasi
Eksplorasi kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis herpetofauna yang ditemukan, mengetahui tingkat keanekaragaman dan dominansi spesies, serta menyediakan data dasar yang dapat mendukung upaya konservasi kawasan hutan Cisaat.
Lokasi dan Jalur Pengamatan
Kondisi Habitat Cimata Indung (kiri), Batu Kutu (tengah) dan Batu Sereu (Hutan)
Kegiatan eksplorasi ini dilakukan di tiga transek/jalur, yaitu Cimata Indung (aliran sungai), Batu Kutu (persawahan), dan Batu Sereu (Hutan campuran). Masing-masing jalur memiliki karakteristik habitat yang berbeda, mulai dari area perairan, serasah hutan, hingga vegetasi rapat, sehingga memungkinkan ditemukannya variasi spesies herpetofauna yang cukup beragam.
Metodologi Eksplorasi
Pengamatan herpetofauna dilakukan menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES), yaitu metode pencarian aktif dengan menyusuri habitat dan mencatat individu yang terlihat secara langsung. Waktu pengamatan di pagi hari (diurnal) pukul 07.00-10.00 WIB dan malam hari (nokturnal) pukul 19.00-22.00 WIB. Pengamatan berlangsung selama 3 jam, menyesuaikan dengan waktu aktif amfibi dan reptil yang berbeda antara pagi dan malam hari.
Komposisi Herpetofauna yang Ditemukan
Beberapa jenis amfibi yang berhasil teridentifikasi antara lain Fejervarya cancrivora (kodok sawah), Fejervarya limnocharis (kodok tegalan), Limnonectes kuhlii (bangkong tuli), Leptobrachium hasseltii (katak serasah), Polypedates leucomystax (katak pohon bergaris), Odorrana hosii (kongkang racun) dan Wijayarana masonii (kongkang jeram). Sedangkan untuk kelas Reptil yang ditemukan adalah Bronchocela jubata dan Gonocephalus chamaeleontinus (bunglon surai), Draco volans (cecak terbang), Ahaetulla prasina (ular pucuk), Ptyas korros (ular koros) dan Gonyosoma oxycephalum (ular bajing). Beberapa jenis kadal dan cecak seperti Sphenomorphus sanctus, Eutropis multifasciata, dan Hemidactylus frenatus.
Keanekaragaman dan Dominansi Spesies
Berdasarkan analisis indeks keanekaragaman(H'), ketiga jalur menunjukkan kategori keanekaragaman sedang, dengan nilai 2,064 untuk Cimata Indung, 2,054 untuk Batu Kutu dan 2,082 untuk Batu Sereu. Sementara itu, nilai indeks dominansi tergolong rendah di semua jalur, berarti tidak adanya satu spesies yang mendominasi secara berlebihan. Hal ini mencerminkan kondisi ekosistem yang relatif stabil dan seimbang.
Kelimpahan Relatif Spesies
Beberapa temuan menarik dari analisis kelimpahan relatif, yaitu Sphenomorphus sanctus menjadi spesies dengan kelimpahan tertinggi di jalur Cimata Indung dan Batu Sereu, Fejervarya limnocharis mendominasi di jalur Batu Kutu dan beberapa spesies seperti Chalcorana chalconota dan Polypedates leucomystax memiliki kelimpahan rendah, yang menunjukkan sebaran terbatas atau preferensi habitat tertentu.
.jpeg)


0 Comments:
Post a Comment