Apakah Reptil juga Berpuasa?

Sanca Batik/Kembang (Malayopython reticulatus) (Ahmad, 2025)

Halo Sahuler's 🐊✨

Kita bisa belajar dari cara alam menghemat energi melalui reptil, yuk simakk lebih lanjut!

Bulan Ramadhan identik dengan menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Bagi manusia, puasa adalah ibadah yang dilakukan secara sadar dan penuh makna spiritual. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah hewan terutama reptil juga mengalami "puasa"?

Secara agama tentu tidak. Reptil tidak berpuasa karena pilihan atau keyakinan. Tetapi secara biologis, banyak reptil mampu hidup tanpa makan dalam waktu lama. Bahkan, kemampuan ini bukan sekedar kebetulan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup yang telah dibentuk oleh evolusi selama jutaan tahun. 

Reptil dan rahasia metabolisme rendah

Reptil seperti ular, kadal, kura-kura, dan buaya termasuk hewan poikiloterm/ektoterm, yaitu hewan yang suhu tubuhnya bergantung pada lingkungan. Berbeda dengan manusia yang harus terus menjaga suhu tubuh sekitar 36-37°C dengan membakar energi, reptil memanfaatkan panas matahari untuk menghangatkan tubuhnya. 

Metabolisme reptil (Openstax, 2018)

Reptil tidak perlu "membayar mahal" untuk menjaga suhu tubuh, karena kebutuhan energi reptil jauh lebih rendah dibandingkan mamalia berukuran sama. Inilah alasan mengapa reptil bisa makan satu kali dalam beberapa minggu, sementara manusia perlu makan setiap hari. 

Metabolisme yang rendah membuat proses penggunaan energi di dalam tubuh berjalan lambat. Detak jantung lebih pelan, aktivitas enzim lebih stabil, dan cadangan energi digunakan secara hemat. Sistem seperti ini, membuat reptil mampu bertahan lama meskipun makanan sulit ditemukan. 

Bagaimana reptil bertahan tanpa makan?

Kemampuan bertahan lama tanpa makan bukan berarti tubuh reptil "tidak bekerja". Justru sebaliknya, tubuh mereka melakukan berbagai penyesuaian cerdas.

Pertama, reptil menyimpan energi dalam bentuk lemak. Saat makanan tidak tersedia, tubuh akan menggunakan cadangan tersebut secara perlahan. Kedua, aktivitas tubuh bisa diturunkan untuk menghemat energi. Reptil menjadi lebih jarang bergerak, bersembunyi lebih lama, dan menghindari aktivitas yang tidak perlu. 

Beberapa reptil bahkan memasuki fase dormansi, yaitu keadaan istirahat panjang untuk bertahan dari kondisi lingkungan ekstrem. Saat musim dingin, reptil di wilayah subtropis mengalami brumation, kondisi mirip hibernasi pada mamalia. Dalam fase ini, metabolisme menurun drastis dan aktivitas hampir berenti.Pada musim kering atau di daerah panas, sebagian reptil melakukan aestivation, yaitu istirahat panjang untuk menghindari dehidrasi dan kekurangan makanan.Pada kedua kondisi tersebut, tubuh reptil seolah masuk "mode hemat energi maksimum".

Contoh nyata di alam

Beberapa spesies reptil terkenal memiliki kemampuan luar biasa dalam bertahan tanpa makan, contohnya

Ular dari famili Pythonidae, mampu bertahan berbulan-bulan setelah mengonsumsi mangsa berukuran besar. Di Indonesia, kita mengenal ular sanca bantik atau sanca kembang (Malayopython reticulatus) yang dapat mencerna mangsa besar dalam waktu lama dan tidak perlu makan lagi dalam periode panjang.

Predator besar seperti komodo (Varanus komodoensis), salah satu kebanggaan Indonesia dapat hidup berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah satu kali makan besar. Metabolisme rendah dan efisiensi pencernaan membuat energi dari satu mangsa dapat dimanfaatkan dalam waktu lama. 

Buaya yang dikenal sebagai salah satu reptil dengan metabolisme paling hemat di dunia. Dalam kondisi tertentu, mereka bisa bertahan tanpa makan dalam waktu sangat lama karena tubuhnya mampu memperlambat penggunaan energi secara ekstrem.

Apakah mirip dengan puasa manusia?

Walaupun berbeda tujuan, ada kesamaan menarik antara "puasa" reptil dan puasa manusia. Saat manusia berpuasa, tubuh akan beralih menggunakan cadangan energi dari lemak dan glikogen. Laju metabolisme juga bisa sedikit menurun sebagai bentuk penyesuaian. Tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi yang tersedia. 

Reptil melakukan hal yang serupa, tetapi sebagai respons alami terhadap lingkungan, bukan karena keadaan spiritual. Jika manusia berpuasa untuk melatih pengendalian diri dan meningkatkan ketakwaan, reptil "berpuasa" demi bertahan hidup.

Perbedaannya terletak pada tujuan. Kesamaannya ada pada mekanisme penghematan energi.

Pelajaran dari alam di bulan Ramadhan

Reptil mengajarkan kita bahwa alam telah lama mengenal prinsip efisiensi. Tubuh mereka mengajarkan bahwa energi adalah sumber daya yang harus dikelola dengan bijak. 

Bulan Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang mengendalikan konsumsi, mengatur pola hidup, dan belajar merasa cukup. Seperti reptil yang tidak berburu setiap hari, manusia pun dapat belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. 

Alam menunjukkan bahwa bertahan hidup tidak selalu tentang bergerak lebih cepat atau makan lebih banyak, tetapi tentang menyesuaikan diri dengan keadaan dan menggunakan energi secara bijaksana. 

Penulis : Nasya Aliya Anshari

Referensi

Auffenberg, W. (1981). The behavioral ecology of the Komodo monitor. University Press of Florida.

Clark, M.A., Choi, J., & Douglas, M. (2018). Biology 2e. Openstax.

McCue, M.D. (2007). Snakes survive starvation by employing supply-and demand-side economic strategies. Zoology, 110(4), 318-327. https://doi.org/10.1016/j.zool.2007.04.002

Secor, S.M., & Diamond, J. (1998). A vertebrate model of extreme physiological regulation. Nature, 395, 659-662. https://doi.org/10.1038/27131

Vitt, L. J., & Caldwell, J. P. (2014). Herpetology: An Introductory Biology of Amphibians and Reptiles (4th ed.). Academic Press

0 Comments:

Post a Comment

My Instagram